Train to Busan, Film Perjuangan Hidup di Dalam Kereta
Uncategorized

Train to Busan, Film Perjuangan Hidup di Dalam Kereta

Train to Busan, Film Perjuangan Hidup di Dalam Kereta, Kamu sedang ada pada suatu perjalanan kereta. Mendadak zombie hadir menyerang serta menginfeksi penumpang satu-satu.

Tetapi kamu bukan Jon Snow dalam Permainan of Thrones (2011–2016) yang memiliki pedang baja Valyria, bukan Bennet bersaudara dalam Pride and Prejudice and Zombies (2016) yang bersenjata komplet serta kuasai beladiri China, bukan eks-militer kuat dengan koneksi lembaga besar seperti Garry dalam World War Z (2013).

Train to Busan, Film Perjuangan Hidup di Dalam Kereta

Permasalahan semakin lebih gampang bila beberapa zombie berjalan seperti orang mabuk dalam The Walking Dead (2010–2016), tapi sayangnya mereka ganas serta bisa lari. Apa yang akan kamu kerjakan? Permasalahan berikut yang ditemui oleh Seok-woo dan anaknya serta beberapa penumpang lain dalam Train to Busan (Busanhaeng), film Korea Selatan yang disutradarai oleh Yeon Sang-ho.
Seok-woo (Gong Yoo), seseorang manager investasi di Seoul yang habiskan kebanyakan waktu untuk kerja, diminta oleh anaknya Soo-an (Kim Soo-ahn) untuk mengantarkan ke Busan serta berjumpa ibunya yang sudah bercerai, jadi hadiah ulang tahun.

Tidak punyai pilihan, Seok-woo bawa Soo-an naik kereta KTX dari stasiun Seoul. Tidak hanya mereka berdua, kereta itu dinaiki oleh seseorang pekerja kelas menengah Sang-hwa (Ma Dong-seok) serta istrinya yang tengah hamil Sung-gyeong (Jung Yu-mi), sekumpulan team baseball, seseorang COO perusahaan layanan kurir Yong-suk (Kim Eui-sung), dua nenek bersaudara In-gil serta Jon-gil, seseorang penumpang gelap, dan beberapa ratus penumpang lain.

Yang tidak mereka mengetahui, seseorang wanita terinfeksi virus zombie masuk ke satu diantara gerbong pas sebelum kereta tinggalkan Seoul. Bertepatan dengan penayangan berita di tv kereta yang salah memberitahukan wabah zombie jadi keonaran massal di sejumlah kota, wanita ini menggigit seseorang petugas kereta serta memulai teror dalam perjalanan itu.

Sesaat selanjutnya kereta jadi neraka buat beberapa penumpang yang sukses selamatkan diri ke gerbong lain. Melalui sosial media, mereka selanjutnya tahu jika kericuhan dalam kereta dikarenakan oleh zombie, sama seperti seperti berlangsung di kota-kota lain. Tidak mungkin kabur dari kereta yang berjalan, mereka harus memutar otak bagaimana bertahan hidup, sesaat tidak ada kejelasan dimana kereta bisa berhenti dengan aman. Motif beberapa penumpang, terhitung Seok-woo yang mengantarkan Soo-an menjumpai ibunya, jadi tidak penting . Kebanyakan orang mendapatkan intimidasi yang sama.

Tidak ada Tempat Aman

Apa sebagai menarik dalam film ini ialah latar tempatnya. Kita memperoleh rujukan sama dari film Snowpiercer (2013) yang menceritakan mengenai perjuangan kelas beberapa penyintas musibah yang berada didalam kereta berjalan. Dalam Train to Busan, pemakaian kereta jadi latar penting paling tidak memiliki dua peranan penting buat perubahan narasi.

Pertama, gerbong serta stasiun memisahkan babak-babak permasalahan yang perlu ditemui oleh Seok-woo serta beberapa penumpang, seperti formula film action biasanya. Tokoh penting harus melalui bahaya dari satu level ke level tersebut dengan bertingkat. Sutradara sekaligus juga penulis naskah Sang-ho dengan kreatif sukses manfaatkan semua tempat dalam kereta, dari gerbong, bordes, toilet, bagasi atas, sampai ruang-ruang antara bangku penumpang, serta bahkan juga peron, tangga, ruangan nantikan stasiun, dan dipo lokomotif, jadi ruangan beberapa tokoh melakukan tindakan.

Ke-2, latar kereta membuat pertemuan beberapa orang dari beberapa kelompok pekerjaan serta umur jadi rasional. Keberagaman ini memberi warna perselisihan narasi serta membuat Train to Busan tidak hanya menceritakan mengenai keruntuhan peradaban sebab zombie, tapi menyorot alasan kepribadian manusia dalam kondisi kritis, apa harus mengutamakan diri kita atau memerhatikan lainnya.

Dalam satu diantara adegan, beberapa pekerja kelas menengah atas, yang daripada berjaga-jaga dari yang telah ‘mati’, justru pilih mengisolasi diri dari yang masih hidup sebab ketakutan yang tidak mereka mengerti. Kita akan lihat aksi ini jadi ketetapan yang menyedihkan, walau mungkin akan lakukan hal yang sama kalau ada dalam kondisi sama.

Tidak seperti World War Z atau 28 Days Later… (2002) yang mengikutkan jalan keluar hadapi wabah zombie global, Train to Busan berkelanjutan pada masalah yang berlangsung dalam perjalanan dari Seoul ke Busan. Sudut pandang kita dibatasi pada apa yang berlangsung serta didapati oleh beberapa penumpang di kereta. Beberapa penumpang makin lama pelajari kondisi apa yang tengah menerpa mereka melalui info dari tv gerbong serta sosial media.

Walau dengan keringanan demikian, mass media masih tidak bisa memberi info jelas bagaimana melawannya serta ke mana harus pindah. Ini salah satu ironi serta masukan sosial yang dikatakan oleh Sang-ho dalam Train to Busan, tidak hanya beberapa komentar sosial lain yang ada dalam dialog-dialog antar tokoh. Beberapa adegan dalam film bisa dikaitkan dengan insiden riil di Korea Selatan, misalnya adegan pembuka yang mengacu pada pembasmian juta-an ekor babi ternak pada 2011 serta wabah MERS pada 2015.

Patner : Nonton Bioskop 21 Online

Sang-ho cukup efektif dalam menyuguhkan dialog. Walau beberapa berasa klise, dialog berasa lumrah serta tidak memaksakan. Umumnya dialog sekaligus juga berperan jadi perjumpaan tokoh dan penokohannya, yang menegaskan motivasi aksi semasing. Sesudah 15 menit pertama film berpusat pada Seok-woo serta Soo-an dan adegan pembuka, 15 menit selanjutnya kita akan kenal beberapa tokoh lain dalam kereta serta sekelumit deskripsi ciri-ciri mereka.

Contohnya Sang-hwa yang menyebutkan karier ayah Soo-an jadi ‘bloodsucker’, atau Yong-suk yang memerintah Soo-an belajar rajin agar tidak jadi gelandangan seperti penumpang gelap yang mereka jumpai di toilet.

Kombinasi Cocok

Dengan tehnis, Train to Busan tunjukkan kematangan serta kesuksesan kerja sama antar departemen. Shot-shot yang efisien serta tidak sia-sia, audio yang lumrah, dampak suara yang tidak terlalu berlebih, make-up zombie yang menyeramkan tanpa ada gigi taring, dan musik yang tidak ofensif walau beberapa adalah musik tipikal film drama Korea Selatan.

Tetapi bila dibanding dengan dua film Sang-ho awalnya, yakni film animasi The King of Pigs serta The Fake yang menyoroti topik bullying serta hipokrisi warga dengan style cerita yang gelap, film ini berkesan lebih lembut. Ini bisa dimengerti mungkin untuk mencapai cakupan pemirsa yang lebih luas.

Dapat dibuktikan walau ketiganya masuk dalam program pemutaran festival film berprestise di Busan, Cannes, serta Toronto, Train to Busan bertahan dalam 10 besar box office domestik dua bulan semenjak launching pada Juli 2016.

Beberapa detil kecil, seperti nalar dalam adegan lari ke arah lokomotif atau pagar pembatas lokomotif yang menghambat orang jatuh, bisa ditanyakan selanjutnya. Tetapi ini tidak kurangi esensi keseluruhnya film. Train to Busan ialah gabungan yang cocok di antara drama, tindakan, serta horor. Pada satu bagian, film ini menghibur. Pada bagian lain, dia memancing kita berefleksi serta menanyakan kepribadian sosial kita dalam kondisi kritis.

Sesudah Train to Busan, Sang-ho menulis serta menyutradarai film animasi berjudul Seoul Station (2016) yang dikeluarkan bulan kemarin di Korea Selatan. Film ini adalah prekuel atas insiden di kereta yang ditumpangi Seok-woo ke arah Busan serta tentunya dengan latar penting stasiun Seoul.

EKO

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *