Film Indonesia Era Benyamin S Hingga Timnas yang Bertema Sepak Bola
Uncategorized

Film Indonesia Era Benyamin S Hingga Timnas yang Bertema Sepak Bola

Film Indonesia Era Benyamin S Hingga Timnas yang Bertema Sepak Bola

Film Indonesia Era Benyamin S Hingga Timnas yang Bertema Sepak Bola, Dunia layar-lebar Indonesia pada sebuah dekade paling akhir banyak membuahkan karya yang bertopik sepak bola. Sejak awal kebangkitan film Indonesia pada masa 2000-an, beberapa sineas Indonesia berkreasi dengan mengusung narasi dengan topik sepak bola.

Topik yang diangkat dari mulai kompetisi antarkampung, futsal, timnas, supporter, sampai mafia sepak bola. Tetapi, topik yang seringkali diangkat ialah timnas, termasuk juga keberhasilan Tim nasional U-19 memenangkan Piala AFF 2013.

Film popular topik sepak bola yang pertama di luncurkan oleh Andi Bachtiar Yusuf melalui The Conductors pada Februari 2008. Jauh sebelum masa film moderen, sineas Indonesia sempat jadikan kompetisi sepak bola jadi sisi dari plot. Film yang paling popular ialah Buaye Gile, garapan almarhum Benyamin Sueb serta Syamsul Fuad pada tahun 1974.

Tersebut ringkasan film Indonesia bertopik sepak bola vs Comotin :

The Conductors (2008)

Film ber-genre dokumenter ini mengusung cerita dirigen Aremania, Yuli Sugiarto atau akrab dipanggil Yuli Sumpil. Walau topik penting mengenai sepak bola, film ini memvisualisasikan tiga figur yang mempunyai profesi dengan cap sama, yaitu conductor.

Conductor yang disebut ialah pemimpin satu orkestra yang menyertakan komposer terkenal Addie MS, lalu pemimpin gabungan suara legendaris dari UI, AG Sudibyo, serta figur Yuli Sumpil jadi pemimpin beberapa puluh ribu Aremania waktu memberi dukungan Arema di stadion.

The Conductors melahirkan satu rangkuman jika tidak kebanyakan orang dilahirkan jadi pemimpin. Tiga pemeran penting dalam film itu mempunyai style semasing. Addie MS dengan pembawaannya yang karismatik serta classic, sesaat AG Sudibyo ialah figur yang mempunyai kemauan kuat.

Sesaat dari bagian Yuli Sumpil ialah gairah seseorang dirigen yang tidak kenal capek mengendalikan irama beberapa supporter bernyanyi serta meneriakkan yel-yel.

Gara-Gara Bola (2008)

Sesudah The Conductors launching, pada tahun yang sama ada fim komedi berjudul Gara-Gara Bola. Diperankan Khalid Kashogi diperankan Herjunot Ali, serta Winky Wiryawan, serta Laura Basuki.

Topik yang dijadikan film ini sebetulnya cukuplah susah, yaitu mengenai judi bola. Tetapi, bagian humor yang dipertunjukkan melalui beberapa aktor membuat film ini enak di nikmati tanpa ada pemirsa harus berpikir. Herjunot serta Winky memainkan dua teman dekat yang saling menyukai sepak bola.

Mereka terjerat dalam judi saat bertaruh dalam final Piala Dunia 2006. Akhirnya, mereka juga dikejar-kejar oleh kaki tangan bandar judi besar di Jakarta. Indra Herlambang sukses memainkan kaki tangan bandar judi yang membuat film itu makin kocak.

Romeo Juliet (2009)

Satu tahun sesudah meluncurkan The Conductors, Andi Bachtiar Yusuf kembali mengusung topik sepak bola dalam karyanya. Kesempatan ini melalui Romeo Juliet, diperankan Edo Borne, Sissy Pricillia, serta Alex Komang. Dirigen Aremania Yuli Sumpil kembali dipertunjukkan jadi pemeran simpatisan.

Sesuai judul, film ini selesai susah. Diceritakan jalinan cinta terlarang antara supporter Persib Bandung (Desi) dengan anggota The Jakmania (Rangga). Mereka juga kawin lari serta sudah sempat berkunjung di Malang menjumpai Yuli Sumpil.

Akhir narasi, Rangga wafat di Bandung waktu akan menjumpai istrinya yang sedang melihat laga Persib. Film ini sudah sempat memunculkan pro-kontra serta penolakan dari supporter Persib sebab dipandang menyudutkan mereka.

Lepas dari hal tersebut, sebetulnya ada pesan positif dalam film itu, yaitu apa pun dapat berlangsung diantara ke-2 supporter yang bentrok, mulai persabahatan sampai percintaan.

Garuda di Dadaku (2009)

Garuda di Dadaku jadi film Indonesia pertama yang mengusung topik Tim nasional Indonesia. Film instruksi sutradara Ifa Isfansyah diperankan Marsa Aruan, Maudy Koesnaedy, Emir Mahira, serta Ari Sihasale.

Dikisahkan figur Bayu yang berumur 12 tahun serta bercita-cita tembus scuad Tim nasional U-13. Bayu yang semenjak kecil menyukai sepak bola seringkali menggiring bola di gang-gang sempit tempat dia tinggal.

Satu hal yang fantastis dari film ini ialah original soundtrack (Garuda di Dadaku) yang dibuat band Netral. Lagu itu jadi pengiring tim nasional saat berlaga serta dinyanyikan oleh supporter Indonesia.

Pada 2011, sekuel Garuda di Dadaku launching. Emir Mahira kembali jadi pemeran penting dalam film yang disutradarai Rudy Soejarwo.

Sepakan dari Langit (2011)

Topik sepak bola diangkat oleh sutradara populer Hanung Bramantyo melalui film Sepakan dari Langit. Dua pesepak bola top, Irfan Bachdim serta Kim Kurniawan ikut terlibat dalam film itu. Diluar itu, aktris cantik Maudy Ayunda serta Joshua memberi warna film produksi Sinemart

Narasi film ini mengenai remaja bernama Wahyu, tinggal di lereng gunung Bromo, Jawa Timur. Tetapi, Wahyu tidak mendapatkan restu dari sang ayah untuk meneruskan harapan jadi pesepak bola.

Walau sebenarnya, dia diketemukan oleh pelatih Persema Malang, Timo Scheunemann serta Matias Ibo yang tengah berwisata ke Bromo. Ke-2 pelatih adalah figur riil di acara sepak bola nasional.

Pesan kepribadian dalam film itu ialah perjuangan Wahyu menantang halangan untuk memburu yang diimpikan. Halangan tidak cuma hadir dari orangtua, dan juga dianya.

Hari Ini Tentu Menang (2012)

Film Hari Ini Tentu Menang adalah penyesuaian dari novel berjudul Menerjang Batas karta Estu Ernesto. Topik yang diangkat oleh sutradara Andi Bachtiar Yusuf ialah perjuangan Tim nasional Indonesia berusaha di Piala Dunia 2014.

Tokoh sentra dalam film itu ialah Gabriel Omar Baskoro yang dimainkan Zendhy Zain. Dia jadi bintang Tim nasional Indonesia yang maju ke perempat final Piala Dunia. Dikisahkan, Omar menguatkan club Jakarta Metropolitan yang main di Liga Penting Indonesia.

Perselisihan berlangsung sesudah ada rumor mafia sepak bola yang ikut serta dalam Tim nasional Indonesia. Diluar itu, tokoh penting, Omar, melawan beberapa masalah termasuk juga popularitas di Indonesia.

Sinar dari Timur (2014)

Film Sinar dari Timur (Beta Maluku) ialah film bertopik sepak bola pertama yang mengusung satu diantara pusat sepak bola di Indonesia, Maluku. Musisi Glenn Fredly adalah produser film yang disutradarai Angga Dwimas Sasongko.

Diperankan Chicco Jericho, Sinar dari Timur menggabungkan topik sepak bola dengan rumor sosial di Maluku, yaitu perselisihan antaragama.

Ciccho bertindak sebahai Sani Tawainella, bekas pesepak bola Tim nasional U-15 yang sekarang jadi tukang ojek. Dia berupaya selamatkan beberapa anak di kampungnya dari perselisihan agama.

Sani pada akhirnya dikasih pekerjaan mengatasi team Maluku pada kejuaraan nasional. Film ini begitu kental dengan kultur Maluku dengan memakai bahasa Ambon dalam dialog. Film ini mendapatkan penghargaan di Festival Film Indonesia 2014 jadi film paling baik.

Film ini memphoto kehidupan pesepak bola-pesepak bola sungguhan, seperti Alfin Tuasalamony, Hendra Bayauw, Rizky Pellu, dan beberapa yang lain yang sekarang ini aktif main di acara pertandingan Tanah Air.

Tabula Perasaan (2014)

Sineas Indonesia mulai menelusuri Papua untuk mengusung topik sepak bola dalam karya mereka. Pada tahun 2014, sesudah Sinar dari Timur, sutradara Adrianto Dewo membuat film Tabula Perasaan dengan latar belakang Kepulauan Yapen, Serui, Papua.

Tabula Perasaan menceritakan mengenai Hans (Jimmy Kobogau), pemuda asal Serui yang bercita-cita jadi pesepak bola profesional. Hans melawan permasalahan sampai menghadapkan ia dengan pemilik warung nasi Padang bernama Mak Umo.

Film ini termasuk unik. Walau ada latar belakang sepak bola, sutradara menunjukkan keberagaman suku Indonesia serta kuliner. Adrianto Dewo mendapatkan penghargaan jadi sutradara paling baik pada Piala Citra 2014.

Garuda U-19 (2014)

Perjuangan Tim nasional U-19 di Piala AFF U-19 2013 serta ke arah Piala AFC U-19 2014 dijadikan satu film karya Andi Bachtiar Yusuf berjudul Garuda U-19 yang launching pada 9 September 2014.

Garuda U-19 bercerita perjuangan Indra Sjafri dalam mencari pemain walau terdapat beberapa terbatasnya. Film itu diperankan Mathias Muchus serta Ibnu Jamil.

Peluncuran film ini bertepatan dengan mendekati pertarungan Indonesia di Piala AFC U-19. Sayang, perjuangan Evan Dimas berhenti di set penyisihan group.

Hattrick (2012)

Tidak hanya delapan film diatas, ada lagi satu film berjudul Hattrick yang launching pada 2012 diperankan Arumi Bachsin, Denny Sumargo, serta Lukman Sardi, serta Dion Wiyoko. Tetapi, fillm itu mengusung topik futsal.

Setingan ceritanya mengenai satu kompetisi Underground Futsal berskala internasional yang dibarengi oleh team amatir Indonesia.

Team itu dibuat oleh seseorang wanita paruh baya yang menjadi mafia. Dia melanjutkan harapan almarhum suaminya yang begitu mendamba mempunyai team futsal kuat berprestasi internasional.

Team ffutsal dibuat dari beberapa pemain futsal jalanan. Mereka disatukan dengan panduan diculik dan dilatih dalam suatu tempat misterius.

Buaye Gile (1974)

Film yang diperankan seniman legendaris Benyamin S ini menceritakan mengenai kehidupan satu kampung di Jakarta, dimana ada satu keluarga yang baru geser. Tidak ada topik sepak bola dengan spesial dalam film ini. Tetapi, Film yang disutradarai Syamsul Fuad memvisualisasikan kehidupan satu kampung yang tetap ramai dengan kompetisi tarkam mendekati perayaan kemerdekaan.

Dua club tarkam paling top berkompetisi di kampung itu, yaitu PS Apes serta PS Dongkrak. Dalam film itu, sepak bola kampung dilukiskan jadi satu gengsi, khususnya buat pemain yang ingin menarik hati wanita yang dimainkan oleh Ida Royani.

Adegan laga PS Apes versus PS Dongkrak begitu kocak dengan bumbu celotehan ciri khas Benyamin S. Benyamin membuat suatu lagu berjudul sepak bola pelawak.

Patner Comotin : Situs Bola

EKO

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *