Bagaimana Sesungguhnya Wajah Film Horor Kita dari Masa ke Masa
Uncategorized

Bagaimana Sesungguhnya Wajah Film Horor Kita dari Masa ke Masa

Bagaimana Sesungguhnya Wajah Film Horor Kita dari Masa ke Masa, Pembicaraan seperti di atas kadang masih didapati (sampai) sekarang. Entahlah mengapa masih ada orang yang memandang film horor Indonesia itu semua ‘esek-esek’. Yang disebut film horor esek-esek sendiri ialah film yang lebih memprioritaskan keseksian badan beberapa pemainnya, daripada memercayakan narasi untuk menonjolkan keseramannya.

Bagaimana Sesungguhnya Wajah Film Horor Kita dari Masa ke Masa

Tidak salah sich asumsi semacam itu. Tetapi waktu terus berjalan maju, serta pengetahuan kita juga harus ikuti perubahan jaman. Maka, di artikel ini aku ingin ajak kamu semua untuk mencari muka film horor kita dari tahun ke tahun, khususnya pascareformasi.

Baik, silahkan kita mulai saja.

Bangunnya film Indonesia melalui Jelangkung

Sesudah dunia perfilman Indonesia mati suri di masa 90an, ada tiga film yang seringkali disebut jadi penyebab bangunnya perfilman Indonesia; Penjelajahan Sherina (2000), Jelangkung (2001) serta Ada Apa Dengan Cinta? (2002). Spesial untuk Jelangkung, saat itu film instruksi Rizal Mantovani ini serta mampu membuat produser lain yakin diri untuk bikin film horor dengan kemampuan sinematografi serta narasi.

Setelah Jelangkung, masih ada banyak film horor lain yang cukup menarik perhatian. Salah satunya Kafir (2002), Di Sini Ada Setan The Movie, Bangsal 13 (2004), Mirror (2005), Pocong 2, Kuntilanak, Kursi Kosong, Lentera Merah serta Hantu Jeruk Purut (2006).

Tidak cuma dipuji beberapa pengamat film, semenjak tahun 2006 terhitung banyak film horor yang sukses menghiasi barisan film terlaris tiap tahunnya.

Top 15 Terlaris Film Indonesia

Pikirkan, 10 dari 15 film Indonesia terlaris tahun 2007 diisi oleh film horor. Serta 10 film itu masih taat pada skema yang dipopulerkan Jelangkung, yaitu menjaga secara baik bagian ceritanya, juga dalam soal menakut-menakuti. Sebutlah saja Terowongan Casablanca, Suster Ngesot the Movie, Pulau Hantu, Lantai 13, Pocong 3, Beranak Dalam Pendam, Lawang Sewu, Melalui Tengah Malam, Malam Jumat Kliwon, serta Kuntilanak 2.

Tetapi trend ini tidak berjalan lama. Lakunya film horor kelihatannya digunakan oleh beberapa produser cuma untuk mengais rupiah sebanyaknya bermodalkan sekecil-kecilnya.

Pada tahun 2008, jumlahnya film horor yang masuk Top 15 menyusut 50% dari tahun awalnya. Cuma ada 5 film horor yang sukses masuk Top 15, yaitu Tali Pocong Perawan, Hantu Ambulance, Kereta Hantu Manggarai, Tiren: Mati Kemaren, serta 40 Hari Bangunnya Pocong.

Film yang mengobral sensualitas aktor juga diawali

Tahun 2008 diikuti dengan Tali Pocong Perawan yang sukses tembus rangking 3 film Indonesia terlaris. Film itu cuma kalah oleh Laskar Pelangi serta Ayat-Ayat Cinta. Disadari ataukah tidak, dengan pencapaian di atas satu juta pemirsa, Tali Pocong Perawan menimbulkan pertaruhan jika bintang seksi salah satu magnet penarik pemirsa.

Bisa saja ini ialah semula mengapa film horor banyak mengobral sensualitas. Dewi Perssik yang main di Tali Pocong Perawan juga banyak menghasilkan karya-karya sensual yang lain seperti Susuk Pocong, Setan Budeg (2009), Tiran-Mati di Ranjang (2010), Arwah Kuntilanak Duyung, Pacar Hantu Perawan, serta Arwah Goyang Karawang (2011).

Tidak hanya Dewi Perssik, mulai banyak muncul juga aktor-aktor seksi yang lain di film horor, seperti almarhum Julia Perez (Kuntilanak Kamar Mayat, Hantu Jamu Gendong), Andi Soraya (Dendam Pocong Mupeng), Baby Margaretha (Pocong Mandi Goyang Pinggul, Bangunnya Suster Gepeng), Fifie Buntaran (Eyang Pendam, Rumah Sisa Kuburan), Shinta Bachir (Suster Keramas, Mati Muda di Pelukan Janda), Chintyara Alona (Diperkosa Setan, Pengantin Pantai Biru), atau Catherine Wilson (Rintihan Kuntilanak Perawan, Pocong Keliling).

Import bintang luar

Produser makin edan serta makin menjadi-jadi. Tidak cukup hanya pemain lokal, beberapa film mendatangkan bintang seksi di luar negeri (beberapanya ada yang disebut bintang film biru atau bekas bintang film biru). Coba saja lihat beberapa nama seperti Maria Ozawa, Terra Patrick, Sora Aoi, Sasha Grey, sampai Misa Campo.

Semenjak trend film horor jual keseksian badan beberapa pemainnya, narasi film horor juga perlahantapi tentu mulai beralih. Dari sebelumnya seram, justru jadi lucu; dari yang membuat dada jadi berdegup kencang, justru membuat anggota badan lain jadi tegang.

Dan…. film-film itu mampu tahan lama sekaligus juga di cintai penontonnya. Dapat dibuktikan selama 2008-2012, film horor esek-esek serta horor humor tidak jelas masih kerasan nongkrong di Top 15 terlaris. Mereka salah satunya ialah Setan Budeg, Suster Keramas, Paku Kuntilanak serta Hantu Jamu Gendong di 2009; Tiran (Mati di Ranjang) serta Kain Kafan Perawan di 2010; Kuntilanak Kesurupan serta Pocong Ngesot di 2011; sampai Rumah Sisa Kuburan serta Bangun dari Pendam di 2012.

Mulai hilang dari Top 15

Munculnya 5 CM serta Habibie & Ainun di penghujung 2012 dapat disebut bawa angin fresh untuk perfilman Indonesia, dengan kedua-duanya mendapatkan juta-an pemirsa. Beberapa tahun sesudahnya warga Indonesia condong lebih suka melihat film semacam itu dibandingkan film horor esek-esek atau humor. Dapat dibuktikan film-film seperti Tenggelamnya Kapal van Der Wijck, 99 Sinar di Langit Eropa serta Soekarno: Indonesia Merdeka tempati tiga besar film Indonesia terlaris di tahun 2013.

Tetapi apa film horor esek-esek telah terbenam ditelan jaman?

Dengan produksi, film horor seperti itu ada banyak, walau telah tidak dapat tembus jejeran film terlaris. Pada 2013 cuma ada 3 film horor yang masuk top 15, serta itu juga bukan film horor esek-esek. Film-film itu ialah hidangan horror-adventure mengenai legenda Nyi Roro Kidul dalam 308, horor humor Olga Syahputra dalam Taman Lawang, serta horor thriller dalam Air Terjun Pengantin Phuket (yang nongkrong di tempat buncit).

Serta Dewi Perssik juga seolah hilang kejayaannya di tahun ini. Keseksiannya dalam Pantai Selatan serta Bangun dari Lumpur tidak dapat menggedor daftar film terlaris.

Kestabilan horor produksi Hitmaker

Semenjak Rumah Kentang, film pertama produksi Hitmaker Studios yang sukses masuk jejeran film Indonesia terlaris 2012, perfilman horor Indonesia mulai kembali berubah dari type esek-esek ke type sama Jelangkung. Mulai sejak itu juga horor esek-esek mulai lenyap dari jejeran film terlaris, sesaat film produksi Hitmaker berkelanjutan masuk di Top 15 tiap tahunnya.

Dengan kualitas film produksi Hitmaker juga banyak mendapatkan pujian dari pengamat film. Walau harus disadari jika karya-karya mereka belum juga prima, tetapi horor Hitmaker menanamkan standard tertentu untuk film horor seterusnya. Beberapa filmnya yang masuk di Top 15 ialah 308 (2013), Mall Klender & Rumah Gurita (2014), Tarot (2015), The Doll (2016), Mata Batin & The Doll 2 (2017).

Sekarang, film horor dengan sinematografi serta narasi yang kuat sedang berjaya
Rasa-rasanya tidak cuma aku saja yang bangga akan film horor Indonesia sekarang. Jadi pencinta horor, aku cukup ketertarikan dengan film-film horor yang tawarkan narasi menarik serta penggarapan yang baik. Tidak itu saja, mereka juga sukses kembali pada pucuk jejeran film terlaris.

2017 mungkin dapat disebutkan semula film horor Indonesia berjaya, baik dengan kualitas atau jumlah. Pengabdi Setan karya Joko Anwar menempati kuat di tempat satu film Indonesia terlaris dengan mencatatkan lebih dari 4 juta pemirsa. Serta Pengabdi Setan kuasai nominasi Festival Film Indonesia (FFI) 2017, terhitung untuk kelompok Film Paling baik.

Rasanya ini film horor pertama sesudah Ratu Pengetahuan Hitam (1981) Nonton Bioskop 21 Online yang banyak masuk nominasi FFI. Serta bukan tidak mungkin tahun ini FFI kembali memasukkan film horor ke nominasinya.

Mulai masuknya film horor ke festival tanah air sebenarnya berawal dari Badoet (2015) yang sukses masuk dua nominasi Festival Film Bandung 2016 serta memenangi satu penghargaan untuk Penata Musik Terpuji. Tahun ini, FFB juga masukkan film horor Kafir:Bersekutu dengan Setan serta Sebelum Iblis Menjemput ke nominasi Festival Film Bandung 2018.

Benar-benar film horor esek-esek telah hilang dari peredaran. Tapi… apa dengan menghilangnya horor esek-esek, dengan saat itu juga film horor kita wajar disebutkan bagus serta berkualitas?

Beberapanya, iya. Tetapi jangan salah, ada banyak film horor yang dikerjakan asal jadi menghiasi bioskop tiap minggunya. Walau tidak jual sensualitas, tetapi film horor asal jadi masih menjamur.

Serta bukti masih mengatakan jumlahnya penontonnya masih termasuk tinggi. Sejumlah besar dari mereka sentuh angka beberapa ratus ribu pemirsa. Yang paling baru, Arwah Tumbal Nyai: Part Arwah saja dapat menaklukkan Aruna & Lidahnya serta Something in Between.

EKO

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *